Sungai Pekalen

Mengunjungi bumi Probolinggo saat ini ibarat menyusuri kembali perjalanan Sang Raja Majapahit, Prabu Hayam Wuruk lebih dari 500 tahun silam. Konon, menurut cerita rakyat, tak lama setelah Mahapatih Gadjah Mada dari Kerajaan Majapahit berhasil menyatukan wilayah Nusantara di tahun 1357 Masehi, Raja Hayam Wuruk adalah orang pertama yang menjadi saksi atas keindahan panorama alam Probolinggo.

Lantaran kagum dan terpesona oleh keindahan panorama di sana, Hayam Wuruk sempat berlama-lama bercengkerama di tempat itu. Tempat Prabu Hayam Wuruk bercengkerama itu kemudian disebut sebagai prabu linggih, yang lambat laun mengalami perubahan lafal menjadi Probolinggo.

Sungai Pekalen, terletak 25 km dari kota Probolinggo tepatnya terbentang di antara tiga kecamatan berturut-turut yaitu kecamatan Tiris, kecamatan Maron, dan kecamatan Gading. Bantaran sungai yang bisa diarungi berjarak 29 km.

Foto: Sinar Harapan

Karakteristik sungai berbelok dan bertebing, Panorama alam yang indah, puluhan jeram (grade 2 s/d 3+) yang exotic dan menantang, kemegahan air terjun, dan kemolekan gua-gua kelelawar, serta masih ditemuinya beberapa satwa langka seperti burung elang, burung kepodang, monyet, biawak, linsang, tupai dll menjadi daya tarik tersendiri yang dapat Anda nikmati selama perjalanan.

Konon, lokasi arung jeram di alur sungai Pekalen, merupakan alur terbaik setelah sungai Citarik di Kabupaten Sukabumi Jawa Barat. Dari segi keamanan wisata, jeram sungai Kali Pekalen medannya tidak terlalu berbahaya. Tapi, dari sisi tingkat kesulitan arung jeram, dalam kondisi normal angkanya bervariasi antara 2 – 3+. Nilai itu berada setingkat di atas arung jeram Sungai Ayung di Bali serta di bawah Sungai Saddang dan Lariang di Sulawesi Selatan yang kesulitannya mencapai 4-5.

Selain itu tantangan alam berupa puluhan jeram-jeram sungai yang ditawarkan masih sangat molek dan perawan.

klik foto utk perbesar

klik foto utk perbesar

Pemandangan alam berupa tebing sungai yang curam dan membentuk semacam gua, menambah panjang daftar panorama yang memberi nuansa baru pada kelopak mata. Lengkaplah sudah anggota tubuh berekreasi. Dari otot tangan dan kaki yang meregang saat perahu karet meliuk-liuk di alur jeram, sekaligus retina mata disuguhkan panorama warna-warni.

Bagi para petualang, kondisi itu menjadi tantangan yang sangat menggiurkan. Belum lagi pemandangan alami yang khas dengan nuansa pedesaan menjadi pelengkap pesona arung jeram Sungai Pekalen. Nuansa alami terekam pada langkah tapak kaki perawan desa yang berpenampilan polos dan lugu. Mereka tak melepas senyumnya ketika perahu karet wisatawan arung jeram melintas di tepi sungai tempat mereka mencuci pakaian. Di balik bebatuan raksasa, perawan desa itu asyik bercengkerama. Sesekali tangannya dilambaikan kepada wisatawan arung jeram. Sungguh, pemandangan yang langka disuguhkan di perkotaan.

rafting pekalen atas

Foto: Benih.Net

Wilayah jalur rafting Sungai Pekalen dibagi menjadi dua yaitu, pekalen atas dan pekalen bawah. Pekalen atas memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dan dikhususkan bagi mereka yang sudah berpengalaman atau professional. Melewati tirai air terjun dan gua -gua ribuan kelelawar. Sedangkan pekalen bawah, lebih ditujukan pada layanan wisata. Meskipun begitu, jalur pekalen bawah tetaplah menantang.

Terdapat 32 jeram yang akan dilalui sepanjang jalur peraftingan. Masing-masing jeram punya nama sendiri. Pemberian nama-nama jeram tersebut tergolong unik, yaitu berdasarkan peristiwa yang terjadi ketika melakukan pengarungan. Misalnya, sebuah jeram bernama Jeram Indosat. Nama tersebut diberikan karena di jeram tersebut seorang petinggi Indosat terjatuh kedalam air.

Penasaran?

Coba saja langsung hubungi:

Hotline: 081 330 746 370

Email: info@ langitbiruwisata.com